Cara Mencegah Penyakit Difteri

Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa sih ribut bener soal difteri ini? Wabah kan memang bisa terjadi? Kayak penyakit lain.."
Cara Mencegah Penyakit Difteri
Well, bapak ibu, dari berbagai penyakit dan wabah yang diderita manusia, banyak yang berakibat fatal.. kematian. Dari sekian banyak yang berakibat fatal, ada sebagian yang bisa dicegah. Nah difteri ini termasuk yang fatal namun bisa dicegah dengan vaksinasi.
Jadwal rutin vaksin penyakit difteri
Difteri merupakan penyakit yang ditularkan melalui droplets, yaitu cairan dari saluran pernapasan kita. Bisa ketika kontak erat, bersin, dll. Pokoknya kumannya menular dari cairan saluran napas. Anak-anak merupakan populasi yang rentan terinfeksi. Gejalanya nyeri menelan, demam. Ya kayak sakit tenggorok biasa. Tapi penderitanya terlihat lemas. Lalu timbul selaput berwarna abu-abu di rongga mulut bagian belakang. Bisa menutupi amandel. Timbul kesulitan menelan dan sesak napas karena selaput ini menghalangi jalan napas. Pada titik ini orangtua penderita pasti membawa anaknya ke fasilitas kesehatan.
Cara Mengenali Gejala Penyakit Difteri
Selanjutnya di RS, dokter akan menilai derajat sumbatan jalan napasnya. Karena inilah ancaman kematian yang pertama. Sumbatan jalan napas. Tindakan untuk mengatasinya adalah trakeostomi. Membuat lubang di leher bagian depan dan memasukkan kanul/ pipa sebagai jalan napas darurat. Tindakan ini dilakukan oleh dokter THT bersama dokter Anestesi di kamar operasi. Kalau biasanya tindakan di kamar operasi dilakukan dengan bius umum, maka pada kasus difteri ini seringkali harus dilakukan dalam bius lokal. Karena selang napas tidak bisa dimasukkan lewat mulut. Jadi bayangkanlah perasaan seorang anak dalam keadaan sesak, menjalani pembedahan dengan bius lokal. Pasti mengerikan dan traumatis. Bila operasi berjalan lancar, maka dokter THT dan Anestesi dapat bernapas lega, sang pasien bisa beristirahat dengan napas yang tidak sesak. Orangtua bisa bernapas lega? Ternyata belum..

Sekarang saatnya dokter Anak yang berjibaku. Memberikan antibiotik dan Anti Diphteria Serum (ADS). ADS ini tidak selalu tersedia di semua RS. Seringkali pasien harus dirujuk ke RS yang mempunyai stok ADS. Sudah masuk ADS pun sang dokter Anak belum bisa bernapas lega. Pasiennya masih menghadapi ancaman kematian yang kedua. Miokarditis. Kerusakan otot jantung akibat toksin/ racun yang dikeluarkan oleh bakteri difteri ke aliran darah. Jantung pasien bisa berhenti bekerja. Dan inilah penyebab kematian yang paling ditakutkan dari difteri. Dokter Anak akan memantau ketat keadaan pasien dan melakukan rekam jantung berkala untuk mendeteksi gangguan jantung.

Panjang yaaa ceritanya.. Dalam kenyataannya cerita ini bisa lebih panjang kalau ternyata akses pasien ke rumah sakit jauh, tidak ada dokter Anak, THT dan Anestesi, tidak ada ADS, dll.. Cerita panjang ini bisa menjadi singkat tanpa kesedihan. Cukup sampai paragraf kedua. Difteri bisa dicegah dengan vaksinasi DPT. Cukup di Puskesmas. Titik.
Advertisement


EmoticonEmoticon